--[ Tat Wam Asi -- Itu ( ia ) Adalah Kamu ]-- Berikan satu senyum anda kepada setiap orang yang anda jumpai, kelak semua orang akan tersenyum jika melihat anda,....
Tampilkan postingan dengan label KEJAWEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEJAWEN. Tampilkan semua postingan

BULU PERINDU


Bulu perindu,.....
mungkin dari sebagian besar anda sudah tahu atau mungkin hanya sekedar mendengar apa itu bulu perindu atau buluh perindu dan kegunaanya serta cara menggunakannya. Dibawah ini akan kita bahas mengenai bulu perindu atau buluh perindu dari berbagai sumber.
Dalam dunia mistik, bulu perindu dikenal sebagai senjata ampuh untuk membantu dalam percintaan. Buluh perindu berasal dari sarang burung Elang. Tetapi tidak setiap sarang burung elang akan terdapat bulu perindu, biasanya bulu tersebut terdapat pada saat telur burung elang tersebut belum menetas. Jika sudah menetas, maka bulu2 tsb biasanya bulu2 tsb akan patah oleh anak burung elang.

Dalam sebuah sarang, hanya terdapat 5-8 helai. Sarang elang tsb bukan sarang yang berada pada bebatuan tetapi berada pada ketinggian pohon.

Untuk mendapatkannya sarang tersebut, maka dapat dibayangkan betapa sulitnya meski memang sudah nyata keberadaannya. Sarang burung elang biasanya berada pada ujung pohon besar dg ranting2 penyangga yg hanya sebesar ibu jari.

Ada 2 jenis bulu perindu yang ada yaitu berdasarkan warna, al :

1. Buluh perindu berwarna coklat, kemampuannya lebih kecil dan lebih sulit dicari.

2. Buluh perindu berwarna hitam, kemampuannya lebih besar dan mudah dicari.

Bulu perindu memiliki panjang kurang lebih 5-10 sentimeter dan memiliki diameter kurang dari 1 milimeter. Warna dari bulu perindu ini adalah coklat kehitam2an dg bentuk dasar sama dengan bulu alis mata, yaitu pada ujungnya lebih kecil jika dibandingkan dengan batannya. Ia memiliki sifat yg keras dan mudah patah manakala ia berada dalam keadaan kering, tetapi akan menjadi lunak dalam kondisi basah.

Fungsi dari bulu perindu tsb adalah memiliki beberapa kegunaan dalam bidang mistik. Pada umumnya kekuatan / aura yang timbul dari bulu tersebut adalah berwarna putih kehijau2an. Ini berarti kekuatan terbesarnya adalah sbg pemikat, maka dapat juga digunakan sebagai media pelaris dalam berdagang.

Dari keterangan beberapa orang kawan yang memiliki benda tersebut, maka penggunaan dalam berbagai keperluan memiliki jawaban yg sama yaitu ingin mendapatkan cinta dari seseorang.

Misalkan pengguanan mantera untuk pelet :
"Wahai bulu perindu getarkan hatinya si.... ( sebut namanya ).

bacaan mantera sama dengan mantera2 pengasih lainnya jaran goyang, semar mesem atau pengasih wijoyo kusuma, maka dengan media bulu perindu ini akan didapatkan efek yang lebih afdol.

Untuk keperluan lainnya adalah sebagai media pelaris dalam berdagang, maka ditaruhlah bulu perindu pada etalase atau tempat penyimpanan uang, dipercaya dg ditaruhnya bulu perindu tsb, maka para penjualan akan berjalan lebih lancar.

Buluh Perindu memilki pasangan berupa " BAMBU PERINDU / BAMBU TEMU "
( bukan bambu pethuk ). Bambu ini adalah jika batannya dibelah menjadi 2 dan kemudian keduannya ditempatkan pada sungai yang mengalir dg bersebrangan, maka yg terjadi adalah keduanya akan menyatu.
Kedua belahan bambu akan bergerak perlahan dan kemudian menyatu kembali. Belahan bambu tsb memang masih ada bekasnya karena menyatunya kedua belah bambu ini hanya bersifat menempel saja. Ini adalah pengujian keaslian dengan bantuan alam dan biasanya dilakukan pada bambu perindu.

Pengujian keaslian dari bulu perindu dan bukan merupakan pengujian isi atau kekuatan gaibnya, dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

1. Metode Bantuan Alam.

Metode ini membutuhkan aliran sungai sbg media mutlak yang digunakan untuk pengujian. Jika bulu perindu dimasukan dalam air sungai yang mengalir, maka bulu perindu tsb tidak akan terbawa arus ( nusang, sepeti bambu pethuk ). Jika bulu perindu tsb merupakan benda alami, meskipun tidak memilki kekuatan gaib atau penghuninya telah pergi dari bulu tsb, ia tetap bergerak melawan arus.

2. Metode Bantuan Air.

Jika bulu perindu tersentu oleh air, maka ia akan berputar ke arah kanan, manakala ia dilihat dari atas genggaman tangan. Buluh perindu akan bergerak berputar dengan sendirinya jika ia dalam keadaan basah.
hal ini juga sering dapat digunakan sebagai penentu keaslian dari bulu perindu.
Air yg digunakan dalam pengujiankeaslian ini tidak harus ditentukan air tertentu, tetapi bebas. Biasanya yg digunakan adalah air ludah dari penguji.

Bulu perindu biasanya dibuat sebagai minyak pengasih juga. Yaitu dg merendamnya kedalam minyak melati atau sejenisnya. Minyak yg digunakan, biasanya adalah minyak yg memilki sifat halus dan rendah alkohol.

Jika dibuat minyak, maka kekuatan gaib yang berada dalam buku perindu tsb akan memudar kemudian akan mati. Lama kelamaan jika ia direndam dalam minyak, maka ia tidak akan dapat berputar jika terkena air. Bulu perindu dalam aplikasinya adalah sama dg minyak yg berasal dari bulu perindu tsb.

Biasanya bulu perindu adalah berasal dari Kalimantan dan dari suku Dayak pedalama. Bulu perindu juga bisa berasal dari Pulau Jawa jika memang di Jawa terdapat populasi burung elang dan pohon2 tinggi seperti di Kalimantan.


Untuk memikat hati wanita bisa dengan berbagai cara dan salah satunya adalah dengan :

Mantra Pelet Ajian Jaran Goyang
Sebenarnya aji jaran goyang ada 5 tingkatan, gue tulis n gue jelasin satu persatu yach..
A. Mantra
NIYAT INGSUN AMATEK AJIKU SIJARAN GOYANG.
TAK GOYANG ING TENGAH LATAR, CEMETIKU SODO LANANG
UPET UPET KU LEWE BENANG.
TAK SABETAKE GUNUNG JUGRUG WATU GEMPUR
TAK SABETAKE SEGORO ASAT
TAK SABETAKE OMBAK GEDHE SIREP
TAK SABETAKE ATINE SI………
PET SIDHO EDAN ORA EDAN SIDHO GENDENG ORA GENDENG
ORA MARI MARI YEN ORA INGSUN SING NAMBANI.
Pelet ini termasuk jenis pelet langka, penggunaannya harus dengan pengijasahaan agar jika ingin menarik kembali ilmunya dapat dilakukan oleh guru yang mengijasahkannya.
B.Tata cara
Lakukan puasa mutih selama 7 hari dgn mutih ngepel, maksudnya tiap buka hanya makan 3 kepal nasi putih dan 1 gelar air putih.
mantra dibaca pada saat tengah malam 11x, terbit fajar 21x, tenggelam matahari 41x.
pada saat baca mantra bayangkan orang yang dimaksud atau sambil menatap foto orang tsb.
Malam terakhir mantra dibaca pd tangah malam sebanyak 111x.
Pada saat menjalankan ajian ini tiap malam target akan akan dihampiri bayangan ruh suci laduni yang menjalankan. Dihari terakhir target akan sangat tergila gila.
Bila sudah spt ini target harus dinikahi karna bisa gila beneran jika diputuskan begitutu saja.
Saya ijasahkan ilmu ini pada para sahabat WG.
JIka ada yang kurang jelas silahkan tanyakan langsung sblm menjalankan….
Sekali lagi…selamat mencoba….

Mantra pelet buluh Perindu
Ada lagi mantra pelet lainya Buat kalian yang punya buluh perindu atau mani gajah, berikut adalah mantra pengaktipan kekuatan peletnya dari tanah pasundan. Mantra ini dari sesepuh sunda yang masih keturunan eyang kian santang.
Buat Mbah dalem karawang Saya ucapkan terimakasih atas ilmunya yang bisa gu sebarkan disini agar manfaat buat banyak orang, mohon restunya…
DEULEU AING DEULEU TEUTEUP
DI DEULEU KA JALMA ETA
HEUNTEU HURING HEUNTEU SEUREUP
SEUREUPKENEH KA BADAN KURING
YA HULLOH YAHULLOH YA HULLOH
Masukan buluh perindu/mani gajah kedalam botol minyak wangi non alkohol.
Baca mantra tsb pada tengah malam bulan purnama 99x sambil pegang batol tsb.
Minyak dapat digunakan dgn mengoleskan ditelapak tangan dan dikedua belah alis pada saat dibutuhkan dgn baca matra tsb 1x.
Sebenarnya hal-hal ini tidak usah anda lakukan, akan tetapi jika bener-bener pengen merapalkan mantra pelet penakluk hati wanita ini ya silahkan saja, kalo berhasil jangan di salah gunakan ya,

TRADISI RUWATAN


Taukah anda apa yang dimaksud dengan tradisi ruwatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat jawa,...
berikut sedikit ulasannya,...
semoga bermanfaat,....


-->
Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita "wayang" dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.
Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi ,agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/ purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan 
pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).
Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sbb :
  1. Alat musik jawa (Gamelan)
  2. Wayang kulit satu kotak (komplit)
  3. Kelir atau layar kain
  4. Blencong atau lampu dari minyak


 Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:
  1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.
  2. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.
  3. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.
  4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).
  5. Bermacam-macam nasi antara lain :
a.       Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb.
b.      Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.
c.       Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.
  1. Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).
  2. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).
  3. Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.
  4. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.
  5. Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.
  6. Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.
  7. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.
Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.

MBAH PETRUK DAN GUNUNG MERAPI


Misteri Gunung Merapi Mbah Petruk - Di tengah kecemasan masyarakat denga adanya wedhus gembel di Gunung Merapi, para pengungsi dan warga jogja dikejutkan dengan beredarnya sebuah foto awan di puncak Gunung merapi yang diambil seorang warga. Dan anehnya awan tersebut membentuk wajah Mbah petruk yang merupakan salah satu punakawan dalam pewayangan jawa yang berhidung mancung. Misteri Gunung Merapi Mbah petruk ini tak lepas dari mitos masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Mereka meyakini gunung yang berada di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta itu dikuasai oleh sosok gaib, Mbah Petruk.

Suswanto, lelaki berusia 43 tahun warga Dusun Sudimoro Desa Pucanganom Kecamatan Srumbung Magelang, mengabadikan awan berbentuk mirip sosok Mbah Petruk dalam cerita Pewayangan di atas gunung Merapi sebelum meletus dalam jepretan kamera. "Awalnya saja hanya iseng memotret," kata dia, Senin (1/11) siang.

Dalam salinan gambar yang ditunjukan Suswanto, awan mirip Mbah Petruk itu berada tepat di atas puncak Merapi. Berhidung panjang dengan kuncir rambut di belakang kepala melengkung ke atas. Sosoknya menghadap ke arah selatan. "Ke arah Yogyakarta," kata dia.

Gambar itu diambil pada Selasa (26/10) pagi atau sehari sebelum Merapi meletus pada petangnya. Dia menambahkan, gambar itu diambil dari depan rumahnya atau sekitar 13 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Menurut dia, sejumlah warga yang melihat hasilnya meyakiki itu adalah sosok Mbah Petruk, sang penunggu Merapi. Mereka menduga kehadirannya memperlihatkan diri sebagai pertanda bencana besar di Merapi.

Mbah Diwur (54), warga Desa Dusun Gaten Desa Ketunggeng Kecamatan Srumbung meyakini gambar awan itu adalah sebuah peringatan bagi warga sekitar Merapi. "Dia menghadap selatan, lihat saja sekarang yang parah kan Jogja," kata dia.

Dia membenarkan, adanya keyakinan sosok Mbah Petruk sebagai penguasa Merapi yang berkembang di masyarakat. "Dia bersemayam di dalam kawah Merapi," kata dia.

Menurut Sugihartono (40), seorang warga Desa Pucanganom Kecamatan Srumbung, kepercayaan tentang Misteri Gunung Merapi mbah Petruk yang berada di gunung Merapi itu tak bisa lepas dari sejarah peralihan Hindu Majapahit dan Islam Demak.

Oleh masyarakat sekitar Merapi, kata dia, Mbah Petruk itu diyakini sebagai sosok Sabdo Palon Nolo Genggong, seorang penasehat raja Majapahit Brawijaya V. Di akhir kejayaan Majapahit karena masuknya pengaruh Islam di Demak, Brawijaya memilih berdiam di gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Dia disia-sia," katanya.

Karena sang Raja telah tersingkirkan maka Sabdo Palon pun memilih mengikuti jejak sang raja. Namun, dia memilih gunung Merapi sebagai tempat tinggalnya. Sebagai balasan terhadap lawan-lawan yang berkuasa, dia mengangkat sumpah. Kelak akan menagih janji penguasa negeri tentang amanahnya mensejahterakan rakyat.

Letusan Merapi, kata dia, bagi masyarakat yang masih memegang teguh tentang Misteri Gunung Merapi Mbah Petruk tersebut dipercaya sebagai peringatan bahwa penguasa negeri ini lalai menjalankan amanah rakyat. "Si Mbah marah dan menagih janji penguasa," kata dia. 

Benarkah mitos diatas, anda sendiri yang berhak menetukan hal itu benar atau salah. Namun jika dibandingkan dengan keadaan yang terjadi sekarang ini mungkin saja ada benarnya, terutama pada kutipan terakhir yang menyebutkan :  penguasa negeri ini lalai menjalankan amanah rakyat. "Si Mbah marah dan menagih janji penguasa," betapa tidak kita lihat saja hal yang paling mencolok mata saat terjadi letusan gunung merapi, wakil bupati Boyolali dan beberapa pejabat pemda malah jalan-jalan kebali dengan dalih study bunding bla bla bla,.... kalau Dia pemimpin yang benar-benar mengabdi masyarakat harusnya bisa menimbang-nimbang mana yang lebih penting dan yang lebih harus diutamakan,... 
Sedikit gambaran diatas yang terjadi ditinggkat bawah, bagaimana dengan yang ditingkat atas sendiri ?
ya lihat sajalah aksi-aksi bapak-bapak wakil rakyat kita yang terhormat sekarang ini, saya sendiri malas membahasnya disini anda sendiri saja yang melihatnya dimedia televisi akhir-akhir ini. Atau mungkin dari pemerintah sendiri yang dirasa belum memenuhi janji dan sumpahnya untuk mensejahterakan rakyat indonesia,
Anda sendiri yang berhak memilih dan menafsir sendiri kenapa alam ini sekarang MURKA, bukan hanya sekedar " Yah Itu sudah kehendak yang kuasa ? " atau " itu teguran kecil dari Allah ! ".
berfikir positif dan selalu menjadi yang terbaik lahir dan bathin untuk kita sendiri, keluarga, bangsa dan negara.

PETIKAN RAMALAN CUPU KYAI PANJOLO 2010


Setelah dicari-cari dari berbagai sumber tidak ketemu, akhirnya saya menemukan sedikit petikan tentang ramalan cupu kyai panjolo yang dibuka pada selasa kliwon kemaren.
Berikut sedikit petikannya  :

Sekitar 40 ramalan cupu tahun 2010
waspada

Lor kulon ada pasir

...Sering ditemukan Bercak darah

Terdapat gambar pistol laras panjang, di beberapa tempat

Wayang Durno madep ngulon neng kidul

Gambar celeng marep ngidul

Piantun lanang +
wedok adu arep salaman

Wetan gambar gunung metu kukuse

Lanjutan prediski CUPU ki panjala

Dul kulon durno marep ngalor

Kidul Semar pake sabuk madep ngulon
...
Kidul kulon gambar kepala
manusia rusak

Dul kulon ganbar wong njungkel

Dul wetan menunjukan jam 9

Dul wetan Kupu-kupu megar

Wetan semut mati

arah cupu

Semar kinandu ngalor ngulon

Palang kinantang doyong ngetan

Ketiwieri jejeg



CUPU KYAI PANJOLO



Upacara ritual pembukaan cupu Kyai Panjolo yang dipercayai merupakan ramalan kejadian alam dalam rentang satu tahun ke depan di Desa Mendak Girisekar Kecamatan Panggang Gunungkidul menurut rencana akan dibuka Senin (13/10) malam.
Upacara pembukaan ketiga cupu Semarkinandhu, Palangkinantang, dan Kenthiwiri, akan dimulai pukul 23.00 dilanjutkan prosesi kenduri dan dhahar kembul dengan spesial menu nasi gurih berikut ayam dan lalapan. Prosesi kenduri ini dilaksanakan dua kali, sehingga peziarah dan pengunjung diwajibkan untuk makan bersama sebanyak dua kali dengan syarat satu piring dimakan untuk dua atau tiga orang.
Setelah itu dilanjutkan pembukaan cupu dimulai dari cupu tertua Semarkinandhu. Untuk membuka cupu ini dimulai dari selimut kafan pertama, kedua dan seterusnya. Tiap-tiap lembar kafan ini ditemukan benda atau gambar yang dipercayai sebagai ramalan.
Sebagaimana diketahui bahwa dua tahun lalu (2006), isi cupu Kyai Panjolo ditemukan simbol 23 jenis. Dari jumlah tersebut ditemukan gambar gunung api, lumpur dan Pulau Jawa dalam keadaan retak. Selain itu ditemukan ceceran darah. Salah satu selimut arah barat ditemukan lumpur dan ceceran darah dan beberapa bulan kemudian terjadilah gempa tektonik yang meluluhlantakan DIY dan sekitarnya. Sedangkan tahun lalu ditemukan gambar pesawat terbang dan dalam satu tahun berikutnya banyak ditemukan kecelakaan pesawat dengan menimbulkan banyak korban.
Selain merupakan ramalan kejadian alam, cupu Kyai Panjolo juga dipercayai berisi ramalan politik dalam dan luar negeri, juga berisi ramalan bagi petani terutama yang menyangkut keberhasilan tanaman pangan. perkebunan. Dari itulah tiap dilakukan pembukaan cupu menjelang musim tanam selalu dibanjiri pengunjung.

Sewaktu saya masih kecil dulu sering diceritakan oleh orangtua saya akan adanya Cupu tersebut. Menurut cerita orangtua dulu bahwa Cupu Kiai Panjolo ini adalah simbol atau alat peramal untuk kondisi atau kejadian bangsa ini dalam masa setahun kedepan. Cupu Kiai Panjolo ini ada 3 jenis yaitu : ”Palangkhinantang, Semarkinandu”, dan ”Kenthiwiri”. Karena masih banyak warga lokal bahkan dari luar kotapun yang percaya akan hasil ramalan tersebut, maka digunakanlah acara ritual pembukaan Cupu tersebut untuk meminta berkah, entah itu penglaris usaha, jabatan dan lain-lain.Sehingga mereka datang dengan membawa kain mori ( kafan ) untuk membungkus Cupu tersebut,dari tahun ke tahun akhirnya pembungkus Cupu tersebut mencapai ratusan lapis kain.Jika jaman dulu sewaktu saya masih kecil baru beberapa lembar kain saja, namun saat ini ternyata sudah mencapai ratusan lembar kain mori. Kalau dulu ritual membuka kain Cupu Kiai Panjolo ini hanya butuh waktu beberapa jam mungkin tidak sampai dua jam namun saat ini ( tahun 2009 ) bisa sampai pagi hari karena saking banyaknya pembungkusnya.Terlebih lagi setiap lembar kain yang dibuka harus dilihat secara cermat apakah ada tulisan atau sesuatu tanda yang meramalkan kejadian setahun yang akan datang.

Adapun acara ritual membuka kain Cupu Kiai Panjolo ini bertempat didusun Mendak desa Girisekar kecamatan Panggang, dirumah cicit gantung siwurnya Kiai Panjolo yaitu rumah bapakDwijo Sumarto yang notabene memimpin acara sekaligus membuka kain mori tersebut.Dan tahun ini sudah berlangsung acaranya yaitu pada hari senin malam selasa kliwon tanggal 2 nopember 2009. Meskipun pada acara tersebut kondisi cuaca hujan namun tidak mengurangi antusiasme masyarakat yang akan melihat apa ramalan apa yang akan terjadi setahun ke depan.

Dan yang lebih unik yaitu Bapak Dwijo sebagai tuan rumah tentunya akan menyediakan jamuan makanan yang tidak sedikit, namun ternyata makanannya sudah dibuatkan oleh orang perorang yang merasa permintaannya tahun yang lalu terhadap Cupu Kiai Panjolo terkabul, dan itu semua atas permintaan orang tersebut untuk menydiakan kebutuhan konsumsi bagi masyarakat yang hadir.

Menurut berita salah satu media cetak daerah menyebutkan bahwa Upacara Pembukaan Kain Cupu Kiai Panjolo di lakukan tepat pukul 02.00. Pada pembungkus Cupu yang pertama hingga pembungkus kain mori yang ke 22 belum ditemukan tanda-tanda.Pembungkus cupu yang ratusan kain mori itu baru tampak ada tanda atau gambaran, setelah sampai pada kain pembungkus memasuki 80-an.

Masih menurut berita media tersebut,Gambaran pertama, sebelah timur di kain kafan ada gambar bintik-bintik dan pasir. Pada pembungkus kain kafan sebelah barat terdapat gambar empat jari tanpa ibu jari. Gambar itu tampak jelas sekali, berikutnya ada huruf M-R-H.

Yang paling mengerikan, pada kain kafan berikutnya di sebelah barat terdapat gambar kepala manusia dan kepala anjing dengan sekitarnya dipenuhi darah. Apa artinya, semua tidak ada yang tahu.

Namun yang jelas saat gambar itu dibacakan Dwijo Sumarto, hampir semua yang hadir dalam acara itu sepontan teriak bernada sedih.

Lepas dari semuanya itu, yang jelas Cupu Kiai Panjolo hingga sekarang masih dipercaya sebagai ramalan kejadian alam dalam rentang satu tahun ke depan. Benar atau tidak, kita lihat saja nanti.

Saya tambahkan sedikit gambaran dari referensi perpustakaan wonosari.com bahwasannya pada Upacara Pembukaan Cupu Kiai Panjolo pada tahun 2008 hasilnya sebagian antaralain :

Ditemukan gambar ayam jago yang diidentikkan dengan ayam aduan. Simbol ini mengisyaratkan pada 2009 dilangsungkan pesta demokrasi dan pertarungan antarpartai politik dalam mendulang aspirasi masyarakat dalam pesta demokrasi. Kemudian ditemukan juga gambar nasi aking sebagai simbol bidang ketersediaan pangan menipis. Kemudian gambar telapak tangan, dipercayai setiap orang harus berserah diri kepada Tuhan dan agar lebih mengutamakan kejujuran. Jika kejujuran mahal dan orang cenderung berbuat amoral akan menuai perbuatan sendiri. Hal ini berkait dengan ditemukan simbol angka 13 yang diidentikkan dengan kesialan, katanya..


MITOS KANJENG RATU KIDUL DAN KERATON YOGYAKARTA


Apakah anda pernah mendengar kata pantai selatan, Nyi Roro Kidul, Kanjeng Ratu Kidul, atau hubungannya denga keraton Ngayogjokarto hadiningrat dan Kasultanan Surakarta hadiningrat. 

Berikut sedikit banyak petikan ceritanya !

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. "Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku", kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.
Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. "Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya." Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. "Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri," kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..
Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.
Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda
Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.
Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.
Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya.
Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta
Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?
Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.
Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan "makhluk-makhluk halus" tersebut.
Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.
Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena "diambil" oleh sang Ratu.
Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib' yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.
Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan. Lukisan Alm. Affandi bisa anda lihat dibagian atas artikel ini.

Sekian Tulisan saya ini semoga bisa menambah wawasan anda dan semoga bermanfaat.

RAMALAN MINGGU INI

[ Disebuah Bintang Kecil Online Servis, Creator By Iant Sulistiyanto ]. Diberdayakan oleh Blogger.